[ Jum'at, 28 Agustus 2009 ]
Di Balik Mahalnya Harga Gula Pasir
Produksi Turun, Harga Lelang Tinggi
MADIUN - Meningkatnya harga gula pasir di pasaran, salah satunya disebabkan menurunnya produksi. Di Pabrik Gula (PG) Redjo Agung Madiun misalnya, hasil olahan tebu menurun antara 5-10 persen di musim giling tahun ini. ''Ini (tingginya harga, Red) juga dikarenakan turunnya produksi tebu,'' ujar Koordinator Akutansi dan Keuangan PG itu, Tri Cipto Sugiharto, kemarin.
Di Balik Mahalnya Harga Gula Pasir
Produksi Turun, Harga Lelang Tinggi
MADIUN - Meningkatnya harga gula pasir di pasaran, salah satunya disebabkan menurunnya produksi. Di Pabrik Gula (PG) Redjo Agung Madiun misalnya, hasil olahan tebu menurun antara 5-10 persen di musim giling tahun ini. ''Ini (tingginya harga, Red) juga dikarenakan turunnya produksi tebu,'' ujar Koordinator Akutansi dan Keuangan PG itu, Tri Cipto Sugiharto, kemarin.
Untuk jumlah produksi gula musim ini, katanya, sebanyak 54.985 ton. Jumlah itu, jauh di bawah hasil olahan yang ditargetkan sejumlah 61.094 ton. Dengan kondisi itu, lanjutnya, menjadikan harga gula meningkat. Apalagi, permintaannya di bulan Ramadan ini melonjak.
Selain faktor itu, lanjutnya, kenaikan harga sudah terjadi di PG tersebut. Saat ini, harga per kilogramnya dari tempat pembuatan gula itu Rp 8.700. Sepekan sebelumnya hanya Rp 7.900. Harga itu, lanjutnya, hasil pelelangan yang dilakukan bersama Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) tiap minggunya. ''Maklum kalau di pasaran mahal, dari sini saja sudah naik,'' paparnya, kepada wartawan.
Harga lelang itu, lanjutnya, mengacu pada peraturan pemerintah tentang bagi hasil antara PG dan APTR. Besaran persentase yang diterima kedua belah pihak 66 persen untuk APTR dan 34 persen bagi PG. ''Mekanismenya seperti itu dan pabrik tidak turut menentukan harga,'' tambahnya.
Masih menurut Tri, harga gula yang merangkak naik itu juga dipengaruhi harga komoditi tersebut di dunia internasional. Yakni, masuknya gula rafinasi yang masih dibutuhkan untuk pengusaha makanan dan minuman. ''Tapi untuk tahun ini pemanfaatan gula rafinasi sudah mulai berkurang dan menggunakan gula lokal,'' terangnya.
Kemana hasil produksi gula didistribusikan? Tri mengatakan, sebagian besar gula dari PG Redjo Agung dijual ke wilayah Jawa Tengah. Sedangkan petani yang menyetor tebu ke PG itu dari wilayah eks Karesidenan Madiun ditambah Nganjuk, Mojokerto dan Malang. Luas lahannya 8.966 hektare.
Meski begitu, persediaan gula di gudang PG itu masih ada 1.405 ton. Dia optimistis, jumlah itu masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga lebaran.
Sementara, meski harga gula menembus Rp 9.500 di pasaran belum membuat pihak Dinas Perindusrtrian, Perdagangan, Koperasi dan Pariwisata (Indagkoppar), Kota Madiun bertindak. Sebab, saat ini keberadaan komoditas berasa manis itu masih ada.
''Kalau untuk operasi pasar belum perlu dilakukan, karena gula tidak menghilang dari pasaran,'' ujar Kepala Dinas Indagkoppar, Agus Hendarjo.
Kenaikan harga gula, katanya, juga dipengaruhi tingginya kebutuhan. Dalam hal ini, hukum ekonomi berlaku. Yakni, bila permintaan semakin banyak maka harga suatu komoditas semakin mahal. ''Tapi kenaikannya masih wajar-wajar saja,'' tambahnya.
Meski belum merencanakan OP, tambahnya, pihak pemkot tetap akan melakukan pemantauan harga. Sehingga, bila ada komoditas sembilan bahan pokok yang hilang di pasaran akan bisa dilakukan upaya mendatangkan dari distributor. ''Pantuan harga terus kami lakukan,'' lanjutnya.
Masih menurut Agus, peredaran sembako juga diperhatikan. Hal ini, untuk mencegah masuknya komoditas yang tidak sehat. Seperti, daging sapi glonggongan. ''Dalam waktu dekat kami akan action di lapangan,'' tambahnya.
Sehari, Kanigoro Produksi 150 Ton
Berbeda dengan PG Redjo Agung, produksi di PG Kanigoro Madiun relatif stabil. Rara-rata per harinya, produksi gula pasir mencapai 150 ton. Jumlah ini, cenderung sama pada musim giling sebelumnya. ''Tebu juga masih terus masuk dan penggilingan lancar,'' ujar Humas PG Kanigoro, Akuat, kemarin.
Tahun ini, PG Kanigoro menargetkan produksi lebih dari 22.000 ton. Jumlah itu terhitung selama proses pengolahan tebu mulai Mei - Oktober 2009. Namun, hingga kini jumlah hasil produksi belum bisa dikalkulasi. Alasannya, banyak tebu dari para petani yang masih masuk di PG tersebut. ''Apalagi, datanya dibawa bagian umum,'' katanya.
Tebu sebagai bahan dasar gula itu berasal dari lahan petani seluas 1.600 hektare. Yakni, meliputi wilayah eks Karesidenan Madiun. Setelah jadi, lanjut Akuat, gula akan dikirim ke PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI di Surabaya. ''Untuk pemasaran menjadi kewenangan direksi di Surabaya dan termasuk harga lelangnya,'' jelasnya.
Tidak adanya proses pelelangan harga di PG Kanigoro, lanjutnya, karena kapasitas produksi di pabrik itu sedikit. Yakni, hanya menghasilkan 17 ribu kuintal gula per hari. Jumlah itu, kata Kuat, terbilang paling kecil di banding PG yang berada di wilayah eks-Karesidenan Madiun. Seperti, PG Redjo Agung dan PG Poerwodadi di Magetan. Karena, di pabrik gula itu mampu menghasilkan 30 - 60 ribu kuintal per hari. (fik/irw)
Sumber: Radar Madiun (Jawa Pos)
Selain faktor itu, lanjutnya, kenaikan harga sudah terjadi di PG tersebut. Saat ini, harga per kilogramnya dari tempat pembuatan gula itu Rp 8.700. Sepekan sebelumnya hanya Rp 7.900. Harga itu, lanjutnya, hasil pelelangan yang dilakukan bersama Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) tiap minggunya. ''Maklum kalau di pasaran mahal, dari sini saja sudah naik,'' paparnya, kepada wartawan.
Harga lelang itu, lanjutnya, mengacu pada peraturan pemerintah tentang bagi hasil antara PG dan APTR. Besaran persentase yang diterima kedua belah pihak 66 persen untuk APTR dan 34 persen bagi PG. ''Mekanismenya seperti itu dan pabrik tidak turut menentukan harga,'' tambahnya.
Masih menurut Tri, harga gula yang merangkak naik itu juga dipengaruhi harga komoditi tersebut di dunia internasional. Yakni, masuknya gula rafinasi yang masih dibutuhkan untuk pengusaha makanan dan minuman. ''Tapi untuk tahun ini pemanfaatan gula rafinasi sudah mulai berkurang dan menggunakan gula lokal,'' terangnya.
Kemana hasil produksi gula didistribusikan? Tri mengatakan, sebagian besar gula dari PG Redjo Agung dijual ke wilayah Jawa Tengah. Sedangkan petani yang menyetor tebu ke PG itu dari wilayah eks Karesidenan Madiun ditambah Nganjuk, Mojokerto dan Malang. Luas lahannya 8.966 hektare.
Meski begitu, persediaan gula di gudang PG itu masih ada 1.405 ton. Dia optimistis, jumlah itu masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga lebaran.
Sementara, meski harga gula menembus Rp 9.500 di pasaran belum membuat pihak Dinas Perindusrtrian, Perdagangan, Koperasi dan Pariwisata (Indagkoppar), Kota Madiun bertindak. Sebab, saat ini keberadaan komoditas berasa manis itu masih ada.
''Kalau untuk operasi pasar belum perlu dilakukan, karena gula tidak menghilang dari pasaran,'' ujar Kepala Dinas Indagkoppar, Agus Hendarjo.
Kenaikan harga gula, katanya, juga dipengaruhi tingginya kebutuhan. Dalam hal ini, hukum ekonomi berlaku. Yakni, bila permintaan semakin banyak maka harga suatu komoditas semakin mahal. ''Tapi kenaikannya masih wajar-wajar saja,'' tambahnya.
Meski belum merencanakan OP, tambahnya, pihak pemkot tetap akan melakukan pemantauan harga. Sehingga, bila ada komoditas sembilan bahan pokok yang hilang di pasaran akan bisa dilakukan upaya mendatangkan dari distributor. ''Pantuan harga terus kami lakukan,'' lanjutnya.
Masih menurut Agus, peredaran sembako juga diperhatikan. Hal ini, untuk mencegah masuknya komoditas yang tidak sehat. Seperti, daging sapi glonggongan. ''Dalam waktu dekat kami akan action di lapangan,'' tambahnya.
Sehari, Kanigoro Produksi 150 Ton
Berbeda dengan PG Redjo Agung, produksi di PG Kanigoro Madiun relatif stabil. Rara-rata per harinya, produksi gula pasir mencapai 150 ton. Jumlah ini, cenderung sama pada musim giling sebelumnya. ''Tebu juga masih terus masuk dan penggilingan lancar,'' ujar Humas PG Kanigoro, Akuat, kemarin.
Tahun ini, PG Kanigoro menargetkan produksi lebih dari 22.000 ton. Jumlah itu terhitung selama proses pengolahan tebu mulai Mei - Oktober 2009. Namun, hingga kini jumlah hasil produksi belum bisa dikalkulasi. Alasannya, banyak tebu dari para petani yang masih masuk di PG tersebut. ''Apalagi, datanya dibawa bagian umum,'' katanya.
Tebu sebagai bahan dasar gula itu berasal dari lahan petani seluas 1.600 hektare. Yakni, meliputi wilayah eks Karesidenan Madiun. Setelah jadi, lanjut Akuat, gula akan dikirim ke PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI di Surabaya. ''Untuk pemasaran menjadi kewenangan direksi di Surabaya dan termasuk harga lelangnya,'' jelasnya.
Tidak adanya proses pelelangan harga di PG Kanigoro, lanjutnya, karena kapasitas produksi di pabrik itu sedikit. Yakni, hanya menghasilkan 17 ribu kuintal gula per hari. Jumlah itu, kata Kuat, terbilang paling kecil di banding PG yang berada di wilayah eks-Karesidenan Madiun. Seperti, PG Redjo Agung dan PG Poerwodadi di Magetan. Karena, di pabrik gula itu mampu menghasilkan 30 - 60 ribu kuintal per hari. (fik/irw)
Sumber: Radar Madiun (Jawa Pos)


